meskipun ga punya duit dan harus ngirit2, tp akhirnya sore ini kita habiskan dengan nonton film indonesia yang berjudul romeo and juliet, sounds cheesy? tp karena pada dasarnya saya suka nontonin film drama indonesia dan si dia sepertinya oke-oke saja, maka berangkatlah kita berdua ke TP
sampai di gedung bioskop tepat 5 menit sebelum film-nya dimulai. bioskop nya lengang banget. cuman beberapa orang yang duduk dipojok2 dan segerombolan anak muda yang duduk di baris tengah.
cerita awal diwarnai dengan perkelahian persib dan persija yang menyebut perkumpulan suporter mereka sebagai viking dan jak-mania. sebenernya garis besar cerita ini cukup simple, ada dua orang manusia, rangga yang termasuk salah satu pendukung paling toppp persija dan desi yang notabene adalah adik dari kang sarman, pendukung setia persib. dan akhirnya rangga dan desi pun jatuh cinta, tp karena keadaan kedua lingkungan yang saling bertolak belakang, mereka harus pacaran sembunyi2. cerita diakhiri dengan kematian si tokoh utama laki-laki karena digebukin oleh teman-teman kang sarman.
meskipun, di tengah cerita, disaat semua orang sibuk menonton film dan kita sibuk dengan dunia kita sendiri :p, saya masih bisa menarik kesimpulan dr film ini. film ini dikemas dengan setting yang cukup bagus. sangat bisa menggambarkan kehidupan para suporter bola di indonesia, tp seperti layaknya film indonesia, film ini dibuat dengan script yang menurut saya tidak terlalu kuat, awal yang terlalu mudah ditebak. dari perkelahian itulah rangga dan desi bertemu. lambat laun, filmnya menjadi sedikit membosankan. terlalu banyak dialog yang ga terlalu perlu. anehnya lagi, terlalu kebetulan bang rangga ketemu teteh desi dan begitu cepatnya teteh desi mengenal bang rangga sampai mau diajak ke jakarta dan menginap di rumah bang rangga hanya di pertemuan ketiga mereka. setelah desi diantar rangga kerumahnya di bandung dan bertemu ibu desi, ibu desi sepertinya tenang-tenang saja anaknya menginap dirumah cowok yang *menurut saya* asing. membuat saya berpikir, begini bebaskah kehidupan remaja sekarang?
ditengah perasaan asmara mereka, dialog malah semakin membosankan dan menurut saya semakin lebai. masih ada ya remaja jaman sekarang yang mengutarakan perasaan mereka dengan bersyair? dan ketika pada akhirnya, mereka harus terpisahkan oleh keadaan, mereka harus menunggu sampai 2 bulan kemudian untuk bertemu di malang, ketika persib bertanding dengan arema. ketika itu rangga harus sembunyi2 untuk membawa kabur desi. dan sebelum mereka sempat kabur, mereka saling melepas rindu dengan making love. ya please, dimana si otak mereka? disaat mereka terkejar waktu, masih sempatkah mereka making love?
di akhir cerita, adegan lumayan mengiris. rangga meninggal karena dikeroyok teman-teman bang sarman. moralnya sama dengan film romeo and juliet versi romeo dan juliet. ngapain si kita gontok-gontokan belain rasa gengsi kita, sampai hasil ekstrem-nya membuat saudara kita sendiri yang harus menderita?
buat saya sendiri, hasil yang dipetik, saya jadi tau bagaimana perkelahian antara dua suporter yang emang lagi emosi. gilaaa, parah juga ya? pantes deh, saya ga boleh keluar rumah kalau arema lagi tanding. melihat crowd di bioskop juga membuat saya sedikit terhenyak. oh begini toh kalo orang surabaya kalo nonton di TP? kok menurut saya sedikit kampungan ya? dengan segala celotehan mereka :s tapi terus terang, saya masih terkesima dengan bagaimana mereka mengambil gambar untuk film mereka di malang. dan itu membuat saya tambah jatuh cinta dengan kota asal saya..
sampai di gedung bioskop tepat 5 menit sebelum film-nya dimulai. bioskop nya lengang banget. cuman beberapa orang yang duduk dipojok2 dan segerombolan anak muda yang duduk di baris tengah.
cerita awal diwarnai dengan perkelahian persib dan persija yang menyebut perkumpulan suporter mereka sebagai viking dan jak-mania. sebenernya garis besar cerita ini cukup simple, ada dua orang manusia, rangga yang termasuk salah satu pendukung paling toppp persija dan desi yang notabene adalah adik dari kang sarman, pendukung setia persib. dan akhirnya rangga dan desi pun jatuh cinta, tp karena keadaan kedua lingkungan yang saling bertolak belakang, mereka harus pacaran sembunyi2. cerita diakhiri dengan kematian si tokoh utama laki-laki karena digebukin oleh teman-teman kang sarman.
meskipun, di tengah cerita, disaat semua orang sibuk menonton film dan kita sibuk dengan dunia kita sendiri :p, saya masih bisa menarik kesimpulan dr film ini. film ini dikemas dengan setting yang cukup bagus. sangat bisa menggambarkan kehidupan para suporter bola di indonesia, tp seperti layaknya film indonesia, film ini dibuat dengan script yang menurut saya tidak terlalu kuat, awal yang terlalu mudah ditebak. dari perkelahian itulah rangga dan desi bertemu. lambat laun, filmnya menjadi sedikit membosankan. terlalu banyak dialog yang ga terlalu perlu. anehnya lagi, terlalu kebetulan bang rangga ketemu teteh desi dan begitu cepatnya teteh desi mengenal bang rangga sampai mau diajak ke jakarta dan menginap di rumah bang rangga hanya di pertemuan ketiga mereka. setelah desi diantar rangga kerumahnya di bandung dan bertemu ibu desi, ibu desi sepertinya tenang-tenang saja anaknya menginap dirumah cowok yang *menurut saya* asing. membuat saya berpikir, begini bebaskah kehidupan remaja sekarang?
ditengah perasaan asmara mereka, dialog malah semakin membosankan dan menurut saya semakin lebai. masih ada ya remaja jaman sekarang yang mengutarakan perasaan mereka dengan bersyair? dan ketika pada akhirnya, mereka harus terpisahkan oleh keadaan, mereka harus menunggu sampai 2 bulan kemudian untuk bertemu di malang, ketika persib bertanding dengan arema. ketika itu rangga harus sembunyi2 untuk membawa kabur desi. dan sebelum mereka sempat kabur, mereka saling melepas rindu dengan making love. ya please, dimana si otak mereka? disaat mereka terkejar waktu, masih sempatkah mereka making love?
di akhir cerita, adegan lumayan mengiris. rangga meninggal karena dikeroyok teman-teman bang sarman. moralnya sama dengan film romeo and juliet versi romeo dan juliet. ngapain si kita gontok-gontokan belain rasa gengsi kita, sampai hasil ekstrem-nya membuat saudara kita sendiri yang harus menderita?
buat saya sendiri, hasil yang dipetik, saya jadi tau bagaimana perkelahian antara dua suporter yang emang lagi emosi. gilaaa, parah juga ya? pantes deh, saya ga boleh keluar rumah kalau arema lagi tanding. melihat crowd di bioskop juga membuat saya sedikit terhenyak. oh begini toh kalo orang surabaya kalo nonton di TP? kok menurut saya sedikit kampungan ya? dengan segala celotehan mereka :s tapi terus terang, saya masih terkesima dengan bagaimana mereka mengambil gambar untuk film mereka di malang. dan itu membuat saya tambah jatuh cinta dengan kota asal saya..


3 comments:
nice resume.....
kirain cuma merem doang :P
emang pilemnya yang di tonjolkan memang settingnya sih, bukan dialog yang memperkuat cerita di dalamnya...
nanti deh kita bikin sendiri yang lebih bagus...
sayang Ira :D
kita bikin cerita sendiri? yakin kamuuu? hahaha
yakin donk....
ma kamu kan bikinnya ??
ILU
Post a Comment